Minggu, 07 Oktober 2012
JAPAN!! Week 1: It's Set!
Waktu kecil, saya setiap hari Minggu nonton Doraemon cuma buat bela-belain membayangkan kehidupan di Jepang. Beberapa belas tahun kemudian, saya benar-benar menginjakkan kaki saya di tanah Doraemon. Saya cuma bisa bilang: kakimu boleh menginjak tanah, tapi mimpimu harus luas dan tinggi menembus langit. :D
Saya ke Jepang sebagai peserta penerima beasiswa JASSO Scholarship di Kumamoto University. Yak! Saya tinggal di Kumamoto, daerah Kyushu, selama tiga bulan ke depan.
Kedatangan di Kumamoto ini bukan jalan singkat yang lurus, dalam segala maksud. Persiapan-persiapan administratif, pertimbangan ini-itu, persiapan fisik, mental, dan sebagainya juga sudah cukup menguras banyak hal. Untuk ikut program ini, saya harus cuti satu semester dan menunda keinginan-keinginan yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Yes, you lose some when you get some. Nggak boleh serakah. Jadi, "lose some - get some" ini nggak jadi masalah besar.
Persiapan sudah dilakukan sejak tiga bulan lalu, begitu saya menerima pengumuman. Pengurusan cuti kuliah, visa, surat-surat, dan lain-lain sempat membuat saya stres. Untungnya, saya nggak sendirian. Ada beberapa teman yang juga diterima. Jadi, hampir semuanya kami urus berbarengan.
Perjalanan ke Kumamoto yang saya dan teman-teman saya pilih adalah perjalanan murah. Maklum, untuk tiket PP masih ditanggung biaya sendiri. Jalur yang kami pilih adalah Surabaya-KL-Osaka-Fukuoka-Kumamoto, yang harusnya bisa diselesaikan dalam waktu 22 jam. Tapi karena delay dari KL ke Osaka, semua rencana berantakan dan harus menyusun ulang siasat. Akhirnya, kami berhasil tiba di Kumamoto setelah 29 jam. Inilah pentingnya rencana yang matang. Harus ada alternatif-alternatif yang dibayangkan supaya nggak kelabakan ketika salah satu rencana nyaris gagal dan mengganggu yang lainnya. Ah iya, karena berantakannya rencana awal ini, kami juga jadi harus merepotkan keluarga PPIJ Kumamoto. (mohon maaf, senpai-senpai).
Pandangan pertama di Kumamoto? Kota kecil. Jangan bayangkan Tokyo yang sering kita lihat di televisi yang sibuknya setengah mati dan orang nyaris "kekurangan" waktu. Di sini, kehidupan berjalan seperti yang saya lihat di kartun Doraemon dulu. Ada suara gagak waktu sore (walaupun di sini gagak berkoak 24 jam), ada rumah-rumah berhalaman mirip rumahnya Shin-chan, dan semua orang menikmati setiap peran dan pekerjaannya. Yang belum saya temukan cuma toko buku kecil yang ada kakek-kakek membawa kemoceng dan marah-marah setiap kali Nobita membaca buku gratis di tokonya.
Hari pertama kedatangan, setelah perjalanan yang melelahkan, saya memaksa diri untuk berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Jarak asrama ke kampus sekitar 1.6 km, dengan jarak tempuh normal 20-30 menit dengan berjalan kaki, atau sekitar 5-10 menit dengan sepeda (bukan pilihan buat saya yang nggak bisa naik sepeda), atau 5 menit dengan bus lokal dengan waktu tunggu antara 5-8 menit di hari kerja.
Untuk mendampingi saya selama di Jepang, kampus menunjuk satu orang sebagai tutor saya. Tutor saya bernama Zou, mahasiswi S3 tahun ketiga dari Cina. Zou orang yang baik dan cekatan. Hari pertama, di membawa saya bertemu profesor yang menjadi supervisor saya, mengunjungi lab, dan membawa saya ke balai kota untuk pengurusan ijin tinggal. Hari kedua, dia membawa saya ke bank untuk membuka rekening dan mengurus beberapa pembayaran. Di hari kedua juga kami mencari alternatif ponsel untuk saya pakai selama di Jepang. Urusan ponsel ini cukup rumit. Ujung-ujungnya, saya harus menunggu kabar sekitar 10-14 hari untuk mendapatkan sebuah ponsel prabayar.
Setelah urusan-urusan ini beres, saatnya untuk sedikit bersenang-senang. Tanggal 6 Oktober kemarin, organisasi yang bernama YWCA mengadakan bazaar barang murah. Harganya juga benar-benar murah! Untuk jaket yang masih dalam kondisi sangat bagus, mereka menjual dengan harga JPY 50 alias IDR 6,250. Sepatu, ada yang digratiskan. Banyak juga barang yang boleh diambil sesukanya. Dengan ini, resmi sudah bazaar YWCA menjadi acara yang palng disukai pendatang di Kumamoto, terutama mahasiswa. Acara ini berlangsung tiap minggu pertama setiap bulan. Bulan depan, sepertinya saya akan berburu baju musim dingin.
Malamnya, saya dan teman-teman pergi ke festival lentera di sekitar Kumamoto Castle. Sangat menyenangkan melihat begitu kreatifnya orang Jepang untuk memanfaatkan ruang-ruang mereka. Untuk tiba di sini, kami memberanikan diri untuk jalan kaki sekitar 6 km. Hasilnya? Kaki gempor.
Tanggal 7 Oktober ini, ada festival yang diadakan oleh KIF untuk orang asing di Kumamoto. Acaranya? Pakai kimono dan minum teh. Ini akan saya ceritakan terpisah. Yang jelas, seharian ini saya benar-benar senang. Terbayar sudah perjalanan 29 jam.
So, folks! Here come my stories in Japan!
Rabu, 25 Januari 2012
liburan jawa tengah
Kamis, 19 Januari 2012
tiga

tiga tahun!! kayak baru kemarin. :)
dan kita masih belum menemukan alasan apapun untuk satu sama lain.
Senin, 16 Januari 2012
Rabu, 11 Januari 2012
take a chance, take a risk
Hidup itu selalu urusan ambil kesempatan atau nggak. Nggak ambil kesempatan, berarti kita melewatkan sesuatu yang mungkin berharga buat kita. Melewatkan sesuatu yang mungkin nggak akan kita dapatkan untuk kedua kalinya. Petir nggak akan nyambar di tempat yang sama dua kali, kata orang bijak, dan itu yang mungkin bakal terjadi sama kita.
Sebaliknya, kalau kita menngambil sebuah kesempatan, berarti kita udah siap mengambil segala sesuatu yang datang bersamanya, termasuk resiko. Yap. Selalu ada resiko yang menghantui setiap kesempatan yang kita ambil. Resikonya bisa aja tinggi, bisa juga rendah, tergantung sebesar apa kesempatan yang mau diambil. Everything has a price.
Selama ini, kalau boleh jujur, saya sering banget melewatkan kesempatan yang muncul di hadapan saya. Saya lebih memilih untuk bermain aman, dan kadang saya merasa hari-hari saya ya begitu-begitu saja. Oke, saya bisa lulus SD, SMP, SMA, dan kuliah tepat waktu. Nggak ada yang melenceng. Semua sesuai jadwal. Semua seperti yang direncanakan. Tapi saya harus jujur, terutama waktu kuliah, banyak yang saya lewatkan demi "sesuai dengan rencana". Saya baru merasa menyesal sekarang. Gara-gara saya terlalu berpikir lurus, saya melewatkan jalan berkelok yang mungkin pemandangannya lebih indah.
Saya bukannya nggak suka bermain aman. Bermain aman toh, setidaknya yang merasa tidak puas cuma saya. Harapan orang lain terhadap saya bisa tercapai, dan kadang hal itu juga cukup menyenangkan. Tapi selalu, ada pikiran yang menantang saya untuk mengambil kesempatan dan resiko yang lain, supaya saya bisa belajar hal-hal baru.
Yang saya coba bilang, saya nggak pingin beberapa tahun kemudian, saya termenung dan menyesali apa yang saya lakukan, atau apa yang tidak saya lakukan.
Minggu, 08 Januari 2012
hening
Waktu saya melewati bagian kota ini, rasanya hening. Begitu menyenangkan. Rasanya apa yang jadi beban dalam keseharian saya bisa terngkat sedikit. Yah, kadang-kadang kita memang butuh saat-saat hening di antara ramainya hidup kita. Sedikit keheningan untuk menyadari dan mensyukuri apa yang kita punya, belajar dari kesalahan yang kita buat, untuk kemudian bergerak maju.
Siaaaap, grak!!!
Kamis, 05 Januari 2012
after several years.
well, my mum and dad were just having their 25th wedding anniversary last month. 25 years is a proof that something is worth to walk. thanks mum, thanks dad. and today, i found a song from fun. titled The Gambler.
Slow down,
we've got time left to be lazy
All the kids have bloomed from babies into flowers in our eyes.
We've got 50 good years left to spend out in the garden
I don't care to beg your pardon,
We should live until we die.
We were barely 18 when we'd crossed collective hearts.
It was cold, but it got warm when you'd barely crossed my eye.
and then you turned, put out your hand,
and you asked me to dance.
I knew nothing of romance, but it was love at second sight.
I swear when I grow up, I won't just buy you a rose.
I will buy the flower shop, and you will never be lonely.
Even if the sun stops waking up over the fields
I will not leave, I will not leave 'till it's our time.
So just take my hand, you know that I will never leave your side.
It was the winter of '86, and all the fields had frozen over.
So we moved to Arizona to save our only son
and now he's turning to a man, although he thinks just like his mother,
he believes we're all just lovers he sees hope in everyone.
And even though she moved away,
we always get calls from our daughter.
She has eyes just like her father's
they are blue when skies are grey
And just like him, she never stops,
Never takes the day for granted,
works for everything that's handed to her,
Never once complains.
You think that I nearly lost you
When the doctors tried to take you away.
But like the night you took my hand beside the fire
30 years ago to this day
You swore you'd be here 'til we decide that it's our time
Well it's not time, you've never quit in all your life.
So just take my hand, you know that I'll never leave your side.
You're the love of my life, you know that I'll never leave your side.
You come home from work and you kiss me on the eye
You curse the dogs and say that I should never feed them what is ours
and the kids are coming home
I'll set the table
You can make the fire.
Fun - The Gambler
Ain't it sweet? Marriage is much alike a gambling, you have to play your cards and take all the risk. I wish I'll play this game.
